Jalan Poros Lingkar Tambang di Konut Rusak Parah, Warga Minta Pemda dan Perusahaan Bertindak

SAMSIR TOKO PEMUDAH

Konawe Utara, Rakyatpostonline.com – Kondisi jalan poros penghubung Desa Mandiodo, Tapunggaya, dan Tapuemea, Kecamatan Molawe, Kabupaten Konawe Utara, kembali dikeluhkan masyarakat.

Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah tersebut dalam beberapa hari terakhir menyebabkan badan jalan sepanjang kurang lebih 2,8 kilometer mengalami kerusakan parah dan sangat licin saat dilalui kendaraan.

Jalan yang didominasi lapisan tanah merah itu berubah menjadi lumpur ketika diguyur hujan, sehingga membahayakan pengendara roda dua maupun roda empat. Kondisi tersebut tidak hanya menghambat aktivitas masyarakat, tetapi juga memicu kecelakaan hampir setiap hari.

Warga menyebut, banyak pengendara motor terjatuh akibat jalan licin, sementara sejumlah kendaraan roda empat juga kerap terjebak dan tidak mampu melintas. Situasi itu berdampak langsung terhadap aktivitas pendidikan, kesehatan, hingga mobilitas masyarakat lingkar tambang di wilayah tersebut.

“Setiap hari ada motor jatuh dan mobil tertinggal karena jalan sangat licin. Guru yang hendak mengajar juga terkendala, begitu pula tenaga kesehatan saat membawa pasien rujukan ke rumah sakit kabupaten,” ungkap Samsir, salah satu generasi muda Desa Tapuemea.

Menurutnya, masyarakat lingkar tambang sebenarnya telah lama menyuarakan perbaikan jalan tersebut kepada Pemerintah Kabupaten Konawe Utara. Bahkan, warga bersama pemuda setempat pernah menggelar aksi unjuk rasa agar pemerintah daerah dan perusahaan pemegang Izin Usaha Pertambangan (IUP) segera mengambil langkah konkret.

Samsir menjelaskan, perjuangan masyarakat akhirnya mendapat respons positif dari pemerintah daerah dan lima perusahaan pemegang IUP yang beroperasi di Kecamatan Molawe. Kesepakatan bersama terkait penanganan jalan tersebut bahkan telah dituangkan dalam berita acara resmi.

“Kesepakatan itu sudah dilakukan bersama pemerintah daerah, lima pemegang IUP, dan masyarakat lingkar tambang Mandiodo, Tapunggaya, dan Tapuemea atau MTT. Pertemuan berlangsung di Kantor Bupati Konawe Utara pada 2 April 2026,” jelasnya.

Meski demikian, hingga saat ini masyarakat mengaku belum melihat adanya tindak lanjut nyata di lapangan. Sementara kondisi jalan terus memburuk akibat intensitas hujan yang masih tinggi.

Warga berharap pemerintah daerah bersama perusahaan tambang segera merealisasikan hasil kesepakatan tersebut sebelum menimbulkan korban yang lebih besar.

“Kami berharap apa yang sudah disepakati bersama bisa segera ditindaklanjuti. Jangan sampai menunggu banyak korban baru dilakukan perbaikan,” pungkas Samsir.


Laporan : Syaifuddin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *