Konawe Utara, Rakyatpostonline.com – Lapangan sepak bola Desa Basule kembali menjadi “teater akbar” setelah Bandahea FC memastikan diri sebagai juara Turnamen Sepak Bola Bupati Cup I 2025.
Kamis, 27 November 2025, menjadi malam yang sulit dilupakan, terutama bagi penonton yang datang dari berbagai penjuru hanya untuk memastikan apakah tim kesayangan mereka menang, kalah, atau minimal bikin jantung berdebar.
Pertandingan final berlangsung panas, bukan karena cuaca, tetapi karena tensi permainan yang kadang membuat penonton lupa napas.
Bandahea FC datang dengan gaya percaya diri bak klub profesional, lengkap dengan strategi solid, pressing terukur, dan sesekali umpan yang membuat lawan mengira itu “keajaiban tak terprediksi”.
Hasil akhirnya? 4–1. Skor telak yang membuat sebagian suporter tertawa puas dan sebagian lain hanya bisa menghela napas panjang sambil bilang, “Yah, besok coba lagi.”
Strategi Matang, Gol Berkelas, dan Suporter yang Seolah Punya Kartu Member Setia
Sejak menit awal, Bandahea FC tidak memberi kesempatan lawan untuk sekadar bernapas lega. Koordinasi tim berjalan rapi, setidaknya cukup rapi untuk ukuran turnamen desa yang tensinya sering lebih tinggi dari Liga Champions lokal.
Dukungan suporter juga tak kalah meriah. Ada yang membawa spanduk, ada yang membawa toples camilan, ada pula yang bersorak sampai kehilangan suara. Intinya, atmosfer lapangan Basule benar-benar terasa seperti stadion mini yang siap pecah oleh euforia.
Dengan kemenangan ini, Bandahea FC menegaskan posisi mereka sebagai salah satu tim paling disegani di Konawe Utara, dan boleh jadi paling kompak, kalau melihat cara mereka merayakan gol sampai peluit akhir.
Kades Harianto: Setengah Kepala Desa, Setengah Pelatih, Full Totalitas
Kepala Desa Bandahea, Harianto S.Pi, tampak bangga bukan main. Wajar saja, selain sebagai pimpinan desa, ia juga merangkap pelatih tim Bandahea FC.
Lengkap dengan analisis taktik, motivasi, dan jurus-jurus pembakar semangat yang mungkin hanya bisa dipahami pemainnya sendiri.
“Turnamen seperti ini harus jadi agenda rutin. Selain ajang silaturahmi dan sportivitas, ini juga ruang strategis membangun karakter pemuda desa,” ujar Harianto dengan nada tegas dan wajah puas, seperti pelatih yang baru memenangkan final piala dunia versi lokal.
Ia bahkan memberikan bonus tiap gol, sebagai bentuk apresiasi sekaligus “bahan bakar tambahan” agar pemain makin percaya diri. Tak lupa, ia menyampaikan terima kasih kepada pemerintah desa dan Ketua PKK Desa Bandahea yang ikut berperan dalam kelancaran kegiatan.
Dana Pembinaan Dibagi Rata: 19 Pemain, Tidak Ada yang Pulang Kosong
Sementara itu, Manajer Bandahea FC, Eko Bramatya S.Pi, menerima dana pembinaan sebesar Rp30 juta dari panitia. Ia langsung memastikan tidak ada drama di ruang ganti: semuanya dibagi rata.
“Dana pembinaan ini langsung kami bagi kepada 19 pemain. Masing-masing menerima Rp1.500.000 sebagai bentuk penghargaan atas kerja keras mereka,” ucapnya sambil tersenyum puas, senyum khas manajer yang berhasil memimpin tim sampai angkat trofi.
Pembagian ini membuat suasana tim sangat cair. Bahkan beberapa pemain sempat bercanda bahwa ini adalah “bonus paling manis setelah bonus gol”.
Penutup Meriah: Trofi, Hiburan, dan Senyum Warga yang Tidak Habis-Habis
Acara penutupan berlangsung meriah. Trofi diserahkan, hadiah dibagikan, musik diputar, dan penonton pulang dengan cerita masing-masing, ada yang bangga, ada yang masih membahas gol keempat, dan ada pula yang sibuk mencari rekaman pertandingan untuk diposting di media sosial.
Turnamen ini membuktikan bahwa desa-desa di Konawe Utara bukan hanya mampu membangun infrastruktur, tetapi juga ruang kreatif bagi pemuda.
Lapangan Basule menjadi saksi bagaimana olahraga bisa menyatukan warga, melahirkan talenta, dan menciptakan momen kebanggaan bersama.
Selamat kepada Bandahea FC. Kemenangan ini bukan sekadar skor 4–1, tetapi bukti kerja keras, kekompakan, dan semangat desa yang tidak pernah padam. Semoga momentum ini menjadi pijakan menuju prestasi yang lebih tinggi. (**)
Laporan: Syaifuddin









