Konawe Utara, Rakyatpostonline.com – Industri kreatif Sulawesi Tenggara kembali menunjukkan geliat positif. Sebuah film horor komedi berjudul “Arwah Pue Tuko” dipastikan segera tayang pada 17 Januari 2026.
Film ini menjadi bukti konkret bahwa kreativitas lokal mampu melahirkan karya sinema yang berkarakter, berakar pada budaya, sekaligus menghibur.
“Arwah Pue Tuko” mengisahkan sebuah kampung yang dikenal angker dengan keberadaan penunggunya. Kekacauan yang terus terjadi memicu kemunculan sosok Arwah Pue Tuko, atau dikenal sebagai Arwah Kakek Tongkat, yang dipercaya bangkit untuk mengambil tumbal sebagai konsekuensi dari rusaknya tatanan kehidupan kampung.

Kisah ini dikemas dengan sentuhan horor yang berpadu komedi, menjadikannya ringan namun tetap sarat makna.
Diproduseri oleh Vian Saryanti Haryato, film ini tidak hanya menonjolkan sisi hiburan, tetapi juga kuat dalam mengangkat nilai-nilai budaya lokal. Sejumlah tradisi khas Tolaki seperti mosehe wonua, lulo nggarandu, permainan tradisional tempo dulu, serta penggunaan bahasa daerah Tolaki ditampilkan secara autentik.
Film ini juga melibatkan berbagai latar belakang suku, merepresentasikan pesan toleransi dan harmoni dalam keberagaman budaya.
Menariknya, “Arwah Pue Tuko” merupakan 100 persen karya konten kreator lokal Sulawesi Tenggara yang dikolaborasikan dalam satu visi penyutradaraan. Kolaborasi ini menghasilkan alur cerita yang segar, dekat dengan kehidupan masyarakat, dan relevan dengan identitas lokal.

Dari sisi lokasi, film ini memperkuat promosi daerah dengan mengambil latar syuting di Kabupaten Konawe Utara, khususnya Kecamatan Sawa, Kecamatan Lembo, serta Kecamatan Meluhu (Wonua Ndinudu).
Keindahan dan karakter alam daerah tersebut menjadi bagian penting dalam membangun suasana cerita.
Yang tak kalah menarik, Bupati Konawe Utara, H. Ikbar, S.H., M.H., turut ambil bagian sebagai pemeran dengan peran Camat, menandai dukungan langsung pemerintah daerah terhadap pengembangan industri kreatif dan perfilman lokal.
Film ini juga diperkuat oleh kehadiran sejumlah pemeran lokal yang telah dikenal luas di masyarakat dan media sosial, di antaranya Anton Taufik Sainudin (Bapanya Sogepe), Mamaya Sogepe, Vian Tondo (Pak Lurah TikTok), Alkes Kelor, Princess Piranha, Bunggeke, Ibu Ani, Pak Desa Saritando, serta Ketua Dewan Sara Fordati, Adjemain Suruambo, S.Si., M.Sos.
Dengan kekuatan cerita, nilai budaya, keterlibatan tokoh daerah, serta dukungan penuh kreator lokal, “Arwah Pue Tuko” diproyeksikan menjadi salah satu film daerah yang tidak hanya menghibur, tetapi juga memperkuat identitas budaya Sulawesi Tenggara di layar lebar.
Film ini menjadi penegasan bahwa karya lokal mampu berdiri sejajar, berani tampil, dan layak mendapat perhatian publik luas. (**)
Laporan: Syaifuddin
























